Lahirnya organisasi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) pada tahun 1954. Pada dasarnya tidak berangkat dari sebuah ruang yang hampa, tetapi berdasarkan pada sekian banyak aspek yang mempengaruhinya agar IPNU bisa lahir. Aspek sosial, politik, agama, budaya dan aspek-aspek lainnya yang kemudian mengakumulasi dan terbentuk menjadi satu, menjadi sebuah kebutuhan utama akan perlunya dibentuk sebuah organisasi pelajar NU tersebut.
Situasi dan kondisi politik Indonesia pada saat itu. Telah mengalami suatu kondisi ketidakstabilan politik. Yang diakibatkan oleh pertarungan politik, kompetisi politik dan gesekan-gesekan tajam antar golongan. Keluarnya NU dari Masyumi pada tahun 1952, mau tidak mau mengakibatkan efek yang tidak kecil dan tidak pendek, baik di tingkatan internal NU maupun di tingkatan eksternal NU. Setidaknya efek yang paling buruk yang dirasakan NU adalah kenyataan pahit akan terjadinya perceraian dalam tubuh umat Islam di Indonesia, yang akhirnya justru melahirkan suatu sikap persaingan antar sesamanya.(KH. Saifuddin Zuhri, NU; Pasca Khittah, 1990).
Di samping itu, pernyataan keluarnya NU dari Masyumi tersebut juga melahirkan sisi positif bagi internal NU itu sendiri. Di antaranya adalah dengan tumbuhnya kesadaran akan perlunya perbaikan dan pembenahan di tingkatan internal organisasi NU dan perlunya memperkuat solidaritas (ukhuwah) antar Umat Islam tradisionalis (kalangan pesantren, langgar dan masjid), yang memang merupakan basis utama dari NU itu sendiri, agar bersama-sama berjuang untuk membesarkan NU.
Tahun 1954, satu tahun pra Pemilu 1955. Masing-masing kekuatan politik berlomba-lomba dalam hal penyolidan barisannya sebagai persiapan menghadapi Pemilu 1955. Hampir setiap Partai Politik pasti mempunyai sayap-sayap organ sektoral, baik pada sektor pemuda, petani, nelayan, pelajar, mahasiswa, dll. Yang memang diperuntukkan sebagai lini-lini kekuatan bagi setiap parpol yang ada. PKI misalnya di tingkatan petani mempunyai organ sektoral yang diberi nama BTI (Barisan Tani Indonesia), di tingkatan seniman diberi nama LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat), dan masih banyak lagi sektor-sektor lainnya. Kemudian, dari partai Masyumi mempunyai organ sektoral baik di tingkatan pemuda, mahasiswa (HMI), maupun pelajar dengan adanya PII (Pelajar Islam Indonesia). (Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama, LKiS).
Atas faktor di atas itulah, NU sebagai partai baru mau tidak mau dengan waktu yang teramat pendek harus mampu mempersiapkan segala perangkatnya sebagai persiapan untuk menghadapi Pemilu 1955. Dari sinilah kemudian mulai bermunculannya organ-organ sektoral dalam tubuh NU, seperti IPNU, IPPNU, Sarbumusi, Lesbumi, PMII, dll, di samping organ-organ sektoral lainnya yang memang sudah muncul lama sebelum zaman kemerdekaan.
Di samping aspek politik di atas, terdapat juga aspek lainnya yang mungkin lebih mendasar. Aspek tersebut adalah aspek truth claim (klaim kebenaran). Aspek ini merupakan nilai yang paling utama bagi perlunya kita berjuang untuk NU. Truth claim dalam tubuh NU adalah keyakinannya tentang kebenaran ajaran Islam ala ahlussunah wal jam’ah (Aswaja). Nilai ini sudah tidak mungkin bisa ditawar lagi kebenarannya. Karena nilai ini adalah prinsip dasar dalam setiap gerak NU. Atas dasar nilai itulah, NU harus terus berjuang untuk tetap eksis dan mampu membuktikan kebenarannya.
Nilai yang di usung NU ini, mau tidak mau menjadi ancaman tersendiri bagi beberapa kalangan yang tidak sepaham dengan NU, yang memang embrio pertentangannya sudah lama terbangun semenjak puluhan tahun yang lalu. Atas hal tersebut kemudian wajar jika NU selalu dijadikan lawan bagi kelompok-kelompok yang berseberangan tersebut.
Dua aliran besar yang selalu berseberangan dengan nilai-nilai yang di usung NU. Yang pertama, aliran Islam Wahabi. Islam Wahabi selalu menganggap NU telah mengotori Islam dengan nilai-nilainya. Bagi mereka NU sudah menyalahi Islam, hal tersebut terbukti dengan banyaknya nilai-nilai yan diusung NU yang bagi mereka masuk dalam kategori Bid’ah seperti Tahlilan, Nuju Bulan, Selametan, Bedug, dll.
Islam Wahabi sangat keras menentang NU. Dalam setiap gerakannya, mereka selalu menyudutkan NU sebagai Islam yang keliru dan salah, yang mengandung banyak unsur TBC (Tahayul, Bid’ah dan Churafat). Bagi mereka hal tersebut harus dikikis habis dari dunia Islam di Indonesia. Atas dasar itulah yang kemudian selalu menjadi pemicu pertentangan antara kalangan NU dan kalangan Islam Wahabi.
Yang kedua, aliran komunis. Dalam hal ini termanifestasikan dalam bentuk Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada awalnya pertentangan yang terjadi antara PKI dengan NU disebabkan oleh persaingan politik. Namun, pasca digulirkannya kebijakan Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis) oleh Soekarno, pertentangan tersebut meluas menjadi pertentangan Ideologi dan nilai. Bagi PKI, NU adalah ancaman terbesar dalam penyuksesan manifesto politiknya di tingkatan akar rumput. Karena NU merupakan salah satu partai yang mayoritas basis massanya berasal dari kalangan akar rumput. Dari sinilah kemudian terjadinya perang nilai antara PKI dan NU.
Jika kita menilik sejarah dan perjuangan diatas serta beriringan dengan perubahan jaman, situasi dan kondisi yang bersifat intern dan ekstern, itu dapat mempengaruhi perkembangan organisasi. Hal itu menuntut para fungsionaris IPNU-IPPNU untuk tanggap dan harus kritis terhadap perkembangan itu. namun setelah adanya pencerahan dengan diawalinya perubahan nama IPNU menjadi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan IPPNU menjadi Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama, maka perubahan dalam berbagai elemen pun tak dapat dielakkan lagi. Pembinaan organisasi pelajar ini tidak lagi hanya terbatas pada warga NU yang mempunyai status pelajar saja, akan tetapiu mencakup pada semua elemen warga NU.
Di Indonesia banyak sekali organisasi. Tidak asing lagi bahwa organisasi kemasyarakatan di Indonesia ini mempunyai ciri terlalu bergantung kepada lembaga atau figur sentral organisasinya. Termasuk Ikatan pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama. Ketika dalam satu periode ini pimpinan pusat IPNU-IPPNU mempunya kecenderungan pada ranah politik misalkan, maka ranah dan kecenderungan itu juga akan berpengaruh bahkan menjalar luas hingga ke tingkat organisasi yang paling rendah. Begitupun juga ketika ketua Pusat mempunyai kecenderungan yang lain. Kecenderungan dari seorang figur yang dimiliki seakan menjadi daya tarik yang bisa membius para pengikut dibawahnya.
Dari kesemua kecenderungan yang dimiliki oleh seorang yang menjadi figur diatas sangat bagus jika menjadi pendorong bagi organisasi dibawahnya. Yang menyedihkan dari adanya ketergantungan kepada seorang figur adalah, ketika seorang figur sentral tersebut seperti IPNU-IPPNU kurang atau malah tidak memiliki langkah dan gerak lurus organisasi yang menarik untuk dilakukan. Kalau situasi itu terjadi di kalangan organisasi kepelajaran ini, maka secara nasional organisasi ini juga akan mengalami degradasi dalam gerakan. Dan yang sangat memprihatinkan lagi ketika degradasi langkah dan gerakan tersebut justru menjadi keprihatinan dan juga bahan renungan saja tanpa ada pola pembenahan yang dilakukan. Seringkali tidak ada upaya untuk mengajak dari pihak lain yang mumpuni untuk mencerahkan organisasi tersebut.
Pola langkah dan gerak organisasi kepelajaran tersebut, tentu saja sangat jauh berbeda dengan semangat pendirian organisasi IPNU-IPPNU itu sendiri. Atau bahkan bisa dikatakan melenceng dari apa yang dicita-citakan oleh para pendirinya yaitu KH. Tolkhah Mansur dan Umrah Machfudlah.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar